Aktifitas di CV Sandangsari terpantau normal oleh penulis. Buruh-buruh terlihat keluar dari pabrik susai jam kerja sift satu, sekitar pukul dua siang.

(Bandung, 13/11/18). Bau menyengat tercium ketika saya dan Deden melintas menggunakan motor di sepanjang jalan sisi selokan yang airnya bermuara ke sungai Citarum. Saat itu malam sekitar pukul 10, jalanan yang saya dan Deden lalui sudah sepi, hanya ada gemerisik air selokan dan bau yang menyengat. Deden bercerita bahwasannya bau ini berasal dari air limbah yang dibuang oleh CV Sandangsari Textile ke selokan yang sedang kita lalui.


Jarak antara pabrik  dengan pemukiman warga hanya sekitar 5 meter saja, sedangkan panjang pabrik membentang dari RT 01 hingga RT 03, RW 09 kel. Sindangjaya, kec. Mandalajati, kota Bandung, dipisahkan oleh selokan. Selokan itulah yang digunakan oleh pihak pabrik untuk membuang air limbahnya yang bau; yang kemudian airnya akan bermuara di sungai Citarum.

Deden (40) adalah warga setempat yang sudah sejak tahun 2011 hingga sekarang memprotes sejumlah dampak buruk yang ditimbulkan oleh CV Sandangsari Textile, diantaranya soal warga setempat yang tidak beroleh ruang untuk bekerja di pabrik, polusi asap, polusi suara, dan yang terakhir bau limbah pabrik yang menyengat.  Terbukti, pabrik yang Deden protes termasuk kategori pabrik ‘nakal’.

Bulan februari lalu tanggal 9 tahun 2018, pabrik ini kedatangan petugas dari KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) tepatnya Kasubdit Sanksi Administrasi, Turyawan Ardi. Turyawan menyambangi CV Sandangsari Textile membawa mandat penghentian sementara aktivitas produksi pabrik, ditandai dengan pemasangan plang dari KLHK di dua gerbang CV Sandangsari Textile.

CV Sandangsari Textile dihentikan untuk sementara waktu dengan alasan limbah cair yang dihasilkannya empat parameternya telah melebihi baku mutu sehingga mencemari lingkungan. Turyawan, seperti dilansir dalam Tribun Jabar (9/2) mengungkapkan bahwasannya pihaknya telah melakukan uji laboratorium terhadap sample limbah cair CV Sandangsari dan diketahui ada empat parameternya yang melebihi baku mutu, yakni COD, BOD5, Tss dan PH.

Apa lagi menurut Turyawan, “satu saja parameternya melebihi baku mutu sudah pelanggaran apalagi empat parameter sekaligus”. Oleh sebab itu, KLHK melalui Turyawan terpaksa menghentikan aktivitas produksi CV Sandangsari Textile, karena mencemari lingkungan.

Sedangkan menurut Andreas selaku pemilik perusahaan, masih dari berita yang dilansir oleh Tribun Jabar, mengungkapkan bahwasannya pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaannya akibat dari tidak memadainya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang dimiliki perusahaannya, hal itu karena kapasitas produksi yang semakin meningkat. Namun pihaknya saat ini tengah mengupayakan pengadaan IPAL baru di tanah kosong belakang pabrik. Hanya saja terbentur kendala persetujuan dari warga setempat, warga setempat masih belum menyetujui dibangunnya IPAL tambahan.

Senada dengan apa yang diungkapkan Andreas, Deden yang tengah mengemudikan motor berboncengan dengan saya, mengangkat tangan kirinya seraya menggerakan jari telunjuknya ke arah tanah lapang di samping kami, “Nah, tanah inilah Ga yang akan dibangun IPAL pabrik, tapi warga tidak menyetujuinya karena akan menutup akses jalan warga dan diprediksi bakal menimbulkan banjir. Belum ada perluasan areal pabrik saja banjir sudah kerap terjadi akibat luapan air selokan saat hujan deras”. Saat Deden mengutarakan hal tersebut, terhitung sudah 9 bulan berselang dari peristiwa penghentian sementara aktivitas produksi pabrik oleh KLHK. Selama itu, CV Sandangsari tidak memiliki IPAL yang memadai.

Maka pantas bau menyengat terus hadir hingga saat ini menyambangi relung-relung terdalam hidung warga kel. Sindangjaya, kec. Mandalajati, kota Bandung tempat Deden bermukim. Meskipun tidak memiliki IPAL yang memadai dan plang KLHK masih terpampang di dua gerbang perusahaan milik Andreas, namun aktivitas produksi CV Sandangsari terpantau berjalan normal saat ini, padahal sudah 9 bulan berselang sejak petugas KLHK datang.

Belum ada tindakan lanjutan apa pun dari instansi yang berwenang terhadap bau tak sedap yang dihasilkan oleh CV Sandangsari Textile, dalam hal ini dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Deden menuturkan, “Di awal tahun ini, pabrik pernah ditutup oleh KLHK tapi kok bau limbah masih saja ada? KLHK ke mana? Kita sebagai warga sekitar pabrik sudah sangat tidak nyaman dengan bau limbah pabrik”. (YZ)



*Tulisan ini pernah diterbitkan di Trimurti.id