Sejak awal kemunculannya, gerakan serikat buruh di Indonesia sudah sangat politis dan radikal dalam metode aksinya. Tentu saja kita tidak akan pernah lupa beberapa bulan sebelum proklamasi 1945, siapa yang merebut kantor-kantor pemerintah, pabrik-pabrik, tanah-tanah perkebunan, dari penjajah Jepang, tak lain dan tak bukan adalah kaum buruh Indonesia. Di masa itu hampir tidak dikenal serikat buruh yang bersifat apolitis. Kebanyakan serikat buruh menautkan dirinya dengan gerakan-gerakan yang punya tujuan-tujuan politik tertentu.

Mengenai hal ini, Iskandar Tedjakusuma bercerita banyak dalam tulisannya yang dibukukan berjudul "Watak Politik Gerakan Serikat Buruh Indonesia" dan dialihbahasakan oleh Oey Hay Djoen. Cerita yang dituturkan Tedjakusuma ini tidak bisa dilewatkan begitu saja mengingat ia adalah mentri perburuhan di tiga era perdana mentri: era perdana mentri Sukiman, Wilopo, dan Burhanudin Harahap. Dan ia juga adalah ketua biro politik Partai Buruh dari tahun 46-56.

Bukunya bisa didownload di sini, gratis seperti menghirup udara: Download File Bukunya di sini