Foto: 2018, Yoga Zara

Kita tentu saja masih ingat kasus Ratna Sarumpaet tempo hari, cerita yang ia kisahkan kepada publik dengan cepat dapat dibongkar dan diidentifikasi sebagai Hoax. Fakta-fakta yang berhasil dihimpun oleh beberapa pihak bertentangan dengan apa yang Ratna kisahkan. Fakta-fakta itu bermunculan dari jam ke jam. 

Belum juga tiga hari, kisah yang dituturkan Ratna sudah gagal sebagai peristiwa. Kegagalan ini diperkuat dengan jumpa pers permohonan maaf Ratna. Ia mengaku bersalah karena telah berbohong. Ia akui kisahnya hanyalah cerita yang dikarang-karang karena bisikan syaiton.

Mungkin Ratna lupa, mengarang cerita adalah salah satu hal pokok di dunia sastra. Sekalipun kisah yang  dituturkan tidak ada padanannya dalam kenyataan. Mestinya, cerita yang dikarang-karang Ratna masuk akal dan logis. Sayangnya, cerita Ratna tidak seperti itu, cerita Ratna, jelek. Oleh karenanya, kisah yang dituturkan Ratna gagal dua kali. Selain gagal sebagai peristiwa, ia juga jelek sebagai kisah. Mengenai kisah jelek yang dituturkan Ratna telah diulas oleh Tasaro GK dalam sebuah tulisan di laman facebooknya, berjudul “ Kalau Saya jadi Ratna”.

“Jika saya jadi Ratna, saya akan memilih sebuah alasan yang lebih sederhana. Misalnya, tokoh saya sedang di Bandung untuk belanja ke Pasar Baru. Tidak usah melibatkan WNA segala. Alasan itu jauh lebih umum dan lebih susah dilacak. Sedangkan konferensi berlevel internasional sudah pasti terdokumentasi dengan sangat ketat oleh pihak penyelenggara dan kepolisian. Lha wong, demo 10 orang juga tanpa surat izin kepolisian menjadi ilegal.

Kecuali, konferensi itu sifatnya diam-diam. Tapi percayalah, ide itu malah akan mendatangkan banyak masalah. Memunculkan lubang-lubang cerita yang lebih banyak.” tulis Tasaro. 

Walaupun kisah Ratna itu gagal dua kali, tapi Amin Rais dan Prabowo sempat mengimaninya dan menjadi garda terdepan pembela Ratna. Jangan-jangan dua orang ini bukan pembaca karya sastra yang baik dan bagus? Tentu saja saya tidak mau disamakan dengan Amin Rais dan Prabowo, yang melakukan pembelaan tanpa terlebih dahulu menakar dan menguji kisah yang mereka dengar dari Ratna, apakah masuk akal atau tidak. Terutama kaitannya dengan perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi individu dan bangsa Papua.

Perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua tidaklah mudah di Indonesia. Mereka yang memperjuangkannya harus meresikokan banyak hal, sampai yang terburuk yaitu kehilangan nyawa.  Sederet kasus pelanggaran HAM berat di bumi Papua telah terjadi sejak pemerintah Indonesia menginvasi Papua tahun 1961, mereka yang bersuara direpresi sedemikian rupa oleh pemerintah. Mungkin bagi banyak orang kabar ini seperti kisah yang dituturkan Ratna, tidak nyata dianggap kabar burung semata.

Maka tak heran jika banyak orang yang seperti Amin Rais dan Prabowo, membela membabi buta sesuatu yang belum diperiksa (nasionalisme). Akibatnya nalar kita tertutup kabut pekat kebodohan dan ketololan. Wajar memang, karena informasi yang kita terima didominasi oleh berita-berita yang mengukuhkan kebijakan politik negara, yaitu menjajah Papua. Di titik ini, peran media massa sebagai pilar demokrasi menjadi tidak relevan. Alih-alih mendorong demokratisasi informasi, media massa arus utama malah bertindak sebaliknya, menjadi corong penguasa yang represif dan keji. Seperti yang telah dipraktikan oleh detik.com.

@humaspolrestabessurabaya
Detik.com merilis berita yang punya motif menguatkan rilis informasi dari Polrestabes Surabaya yang dimuat di laman Instagram @humaspolrestabessurabaya “Selamat Sore Mitra Humas. Informasi tentang penangkapan mahasiswa oleh Polrestabes Surabaya adalah Hoax” .  Oleh karenanya, berita yang dirilis detik.com diberi judul “Polisi Bantah Dua Mahasiswa Hilang, Ini Faktanya”. Sehingga seolah-olah tidak pernah ada peristiwa penangkapan dua mahasiswa oleh polisi di asrama Papua yang menyebabkan mereka hilang dari jangkauan kawan-kawannya, karena berita itu adalah hoax. Berdasarkan press rilis yang dikeluarkan FMN Surabaya, dua mahasiswa itu bernama Fakhri dan Arifin.

Meskipun framing berita detik.com tersebut diarahkan untuk mengukuhkan rilis Humas Polrestabes Surabaya, agaknya detik.com  jelek dalam menarasikan berita sehingga memunculkan ‘lubang-lubang cerita” yang justru membenarkan adanya peristiwa penangkapan dua mahasiswa oleh polisi di asrama Papua, pasca dua orang mahasiswa ini mengikuti aksi peringatan kemerdekaan Papua (1 Desember). Bisa dilihat dari beberapa kutipan yang dimuat detik.com, diantaranya:


"Fachri Syahrasad, mahasiswa ITS semester 5 fakultas vokasi sudah dipulangkan kepada orang tuanya di Surabaya," kata Barung saat jumpa pers di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Minggu (2/12/2018).


"Arifin Agung Nugroho mahasiswa Universitas Surakarta semester 3 Fakultas Teknik Sipil masih di Polrestabes Surabaya," lanjut Barung.

Dari dua pernyataan Kombes Pol Frans Barung Mangera sudah sangat jelas, Arifin dan Fachri ada bersama aparat kepolisian selama dikabarkan hilang lantaran ditangkap polisi, oleh kawan-kawannya (lih. Press Rilis FMN Surabaya mengenai hal ini). Namun bukannya mengakui bahwasannya Fachri dan Arifin ada bersama mereka, Aparat Kepolisian RI melalui Frans Barung malah menuduh Arifin dan Fachri ‘menghilangkan diri’.

"Ini bukan hilang tapi menghilangkan diri. Menghilangkan diri dengan maksud supaya membentuk opini bahwa pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini aparatur yang menangani kejadian kemarin ini melakukan hal-hal yang tidak terpuji, padahal mereka menghilangkan diri," pungkasnya.

Bagaimana bisa Arifin dan Fachri ‘menghilangkan diri’, sementara mereka sedang bersama Aparat Kepolisian RI? Berdasarkan postingan yang dirilis oleh Instagram @surabayamelawan pada tanggal 2 Desember, Arifin dan Fachri baru dibebaskan polisi pada pukul 5 sore, mereka disembunyikan di ruang reskrim. Dan diinterogasi sejak pukul 2 dini hari tanpa diberi kesempatan untuk menghubungi keluarga atau pengacara.

Apa yang dipraktikan oleh aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian RI jelas-jelas adalah tindakan illegal, dua mahasiswa itu ditangkap tanpa surat penangkapan. Sayangnya berita yang dirilis detik.com hanya bersandar pada kisah yang dituturkan Frans Barung. Kisah yang jelek karena mengandung “lubang-lubang cerita”. Menurutnya, Arifin dan Fachri menghilangkan diri, tapi Frans telah memulangkan Fachri kepada orang tuanya, sedangkan Arifin masih berada di Polrestabes Surabaya. Sungguh kisah yang jelek. 

Berita yang dirilis detik.com ini telah gagal sebagai kisah, apalagi sebagai peristiwa. Sehingga membuat kepolisian RI daerah Surabaya layak disamakan dengan Ratna, bedanya, Ratna lebih baik karena ia berani mengakui kesalahannya. Sedangkan, kepolisian RI tidak, karena tidak mau mengakui telah menangkap Arifin dan Fachri secara illegal, malah menuduh Arifin dan Fachri menghilangkan diri. Lantas, mana yang Hoax dan mana yang fakta?