Deklarasi Bandung Supporter Alliance di Tamansari (24/08/18), sebagian hadirin berfoto di depan logo Anti Fasis. Fasisme adalah ideologi yang mengedepankan pendekatan militeristik untuk mencapai tujuannya, oleh karena itu, tentara menjadi pilar pokok di negara-negara fasis. Bagi fasisme, negara selalu dalam bahaya maka militer mesti terus diperkuat, dan invasi mesti terus jalan. Jerman, Itali, dan Jepang adalah contoh-contoh negara fasis di masa lalu. Foto: Yoga Zara


Di saat-saat seperti ini peran KLHK begitu dinanti oleh warga tercemar limbah cair CV Sandang Sari Textile, tak terkecuali oleh Deden (40) warga sekitar pabrik. Bagi Deden, menghirup udara bersih nan segar setiap saat di sekitar pemukimannya menjadi hal yang sukar dilakukan. Pasalnya, pabrik semakin berani saja membuang limbah cairnya ke selokan kapan pun mereka inginkan. “Jika pabrik sedang membuang limbah, baunya bisa tercium sampai ke RW 7 dan 8. Dalam sehari, pabrik bisa membuang limbah 1 sampai 6 kali”, tutur Deden. Adapun Deden, bermukim di RT 03, RW 09 kel. Sindangjaya, kec. Mandalajati, kota Bandung.

Harapan hanya tinggal harapan, kepada penulis, Deden kemudian bercerita tentang masa kecilnya yang menyenangkan bermain di selokan yang dulu ia sebut sungai; sungai yang airnya menetes deras dari gunung Manglayang. Sungai yang Deden maksud dihuni oleh ikan-ikan beraneka rupa seperti ikan mas dan mujaer, ikan-ikan yang tentu saja bisa dimakan dengan digoreng, dibakar, atau dikukus. Hal itu hari ini hanya tinggal kenangan manis di masa lampau, jangankan melihat ikan-ikan di sungai, untuk mendekati sungai saja Deden harus mengamankan hidungnya dari bau tak sedap limbah cair CV Sandangsari Textile.

Sampai saat Deden berkisah tentang masa lampaunya kepada penulis, KLHK tak kunjung datang juga. Namun ada yang lain datang, yaitu Satgas Penataan Citarum Harum Sektor 22. Mereka melayangkan surat kepada warga sekitar pabrik untuk datang ke acara sosialisasi program Citarum Harum, 6 November 2018, pukul 15.30, bertempat di lapangan RT 04 RW 09 kel. Sindangjaya, kec. Mandalajati, kota Bandung. Adapun yang bertindak sebagai pemapar adalah Dansektor 22 Citarum Harum, yaitu Kolonel Inf. Asep Rahmat Taufiq.

Pepep (bukan nama sebenarnya) yang rumahnya berlokasi paling dekat dengan saluran pembuangan limbah cair CV Sandang Sari Textile menuturkan, “sehari setelah acara sosialisasi, 3-4 orang tentara ngekos di RT 02, lalu mereka mengadakan kegiatan  bersih-bersih selokan”. Meskipun tentara sudah bersih-bersih selokan namun bau limbah pabrik masih saja kerap tercium, “bau limbah  mah masih tetap ada walaupun tentara sudah bersih-bersih selokan”, tambah Pepep.

Kehadiran tentara dalam hal ini Satgas Citarum Harum Sektor 22 tentu saja tidak tanpa sebab. Mereka hadir dalam rangka pemulihan DAS Citarum dari kerusakan, sebagaimana diamanatkan dalam Perpres No. 15 Tahun 2018 mengenai Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Secara organisasi, satgas adalah bagian dari Tim DAS Citarum. Berdasarkan Perpres di atas, Tim DAS Citarum memiliki tugas, “mempercepat pelaksanaan dan keberlanjutan kebijakan pengendalian DAS Citarum melalui operasi pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan, serta pemulihan DAS Citarum secara sinergis dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan pada masing-masing kementerian/lembaga dan pemerintah daerah termasuk optimalisasi personel dan peralatan operasi” (Pasal 3, Perpres No. 15 Tahun 2018).

Tim Das Citarum berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Tim ini secara organisasi terdiri dari pengarah dan satgas. Satgas dikomandani oleh Gubernur Jawa Barat, sedangkan pengarah diketuai oleh Luhut Binsar Panjaitan selaku Mentri Koordinator Bidang Kemaritiman.

Salah satu tugas pokok pengarah adalah  menetapkan kebijakan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum secara terintegrasi dan berkelanjutan. Sebagai bagian dari pelaksanaan tugasnya selaku ketua pengarah, Luhut menyoroti soal IPAL perusahaan di Kawasan DAS Citarum. Hal itu ia sampaikan saat berkunjung ke Bandung. Dilansir oleh detik.com (3 Mei 2018), Luhut menyatakan bahwasannya baru 20 persen perusahaan di DAS Citarum yang memiliki IPAL dan berfungsi dengan baik.

"Baru 20 persen yang ternyata berfungsi baik IPAL-nya. sekarang kita kejar semua. Kami punya data semua, tinggal memberikan waktu tiga bulan untuk memfungsikan IPAL,".

Dan CV Sandang Sari Textile yang berada di kawasan DAS Citarum, lebih tepatnya di sector 22, adalah termasuk perusahaan yang IPAL nya tidak memadai. Hal itu pula yang mendorong KLHK menghentikan aktifitas produksi pabrik bulan februari lalu, yaitu karena tidak memadainya IPAL milik CV Sandang Sari, sehingga mencemari DAS Citarum dan menimbulkan bau tak sedap. Hingga kini, CV Sandang Sari masih belum memiliki IPAL yang memadai, rencana membangun IPAL tambahan di lahan kosong dekat pemukiman warga harus terhalang oleh aspirasi warga yang tidak menghendaki adanya IPAL tambahan.

“warga tidak menyetujui dibangunnya IPAL baru karena akan menutup akses jalan warga dan diprediksi bakal menimbulkan banjir. Belum ada perluasan areal pabrik saja banjir sudah kerap terjadi akibat luapan air selokan saat hujan deras, apalagi nanti setelah dibangun”, tutur Deden.

Sudah lebih dari 3 bulan sejak Luhut berbicara mengenai IPAL perusahaan yang terletak di DAS Citarum, tapi CV Sandang Sari Textile masih beroperasi hingga kini. Padahal Luhut telah menegaskan, “….kalau lebih tiga bulan masih melanggar akan dilakukan tindakan tegas," (detik.com, 3 Mei 2018). Ultimatum Luhut seolah tak berdampak apa-apa di lapangan. Satgas sector 22 yang memiliki tugas melaksanakan arahan dari pengarah (Pasal 9 Perpres No. 15 Tahun 2018) malah sibuk melakukan kegiatan bersih-bersih selokan. Maka pantas salah seorang warga di sekitar pabrik berujar:

“bau limbah  mah masih tetap ada walaupun tentara sudah bersih-bersih selokan”.