Kampung Cidadap, Lebaran, Bilal bin Rabah, Budaya Konsumerisme, Idul Fitri
Suasana pasca solat idul Fitri 1440 H di kampung Cidadap, Padalarang, Bandung Barat, melaksanakan tradisi salam-salaman, (5 Juni 2019, Yoga Zara).

Bilal bin Rabah adalah orang yg ada di samping Muhammad SAW saat beliau berkhutbah dalam idul Fitri yang diselenggarakan untuk pertama kalinya. Rasul SAW berkhutbah sambil bersandar pada Bilal. Kondisi Rasul yang lemahlah yg membuat Rasul bersandar pada Bilal.

Waktu itu, tidak hanya Rasul yg lemah kondisinya, sebagian besar umat Islam pun demikian. Pasalnya, Idul Fitri yang pertama, dilakukan saat umat Islam belum pulih dari luka-luka yg diderita akibat bertempur dgn kafir Quraisy dlm perang Badar beberapa waktu sebelumnya. Saking dahsyatnya perang Badar, lukanya jadi awet dan tak cepat sembuh.

Dalam perang Badar umat Islam menang, tapi apakah idul Fitri dirayakan semata mata karena umat Islam menang dalam perang Badar? Tidak. 

Idul Fitri dirayakan karena Rasul, beberapa saat pasca perang Badar dimenangkan umat Islam, mencanangkan perang terhadap budaya konsumerisme yg muaranya ada di dalam hati setiap individu muslim dan dalam tradisi orang Arab pada waktu itu.

Maka pertama-tama diujilah keimanan setiap individu muslim dgn kewajiban berpuasa sebulan penuh dan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Kemudian digantilah hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan dengan idul Fitri dan idul adha.

Dua hari yg digantikan itu dalam tradisi orang Arab saat itu dijadikan sebagai hari untuk berfoya-foya dan bersenang senang untuk kepuasan diri semata. Begini tanggapan Rasul terhadap dua hari raya dlm tradisi orang Arab tersebut:

Rasulullah berkata kepada kaum Yasyrik, "kalian harus tahu bahwa sesungguhnya Allah menggantikan kedua hari tersebut dengan hari yang lebih baik daripada sekedar berpesta-pesta dan berfoya-foya saja yang hanya akan menjadikan kalian umat yang bodoh yang akan menggunakan waktu dan harta kalian dengan Mubazir atau sia-sia."

Bagaimana dengan sekarang, sudahkah idul Fitri kita maknai sebagaimana Rasul SAW memaknainya? 

Referensi:
Hadits dalam kitab Fiqh Madzahib Al-Arbaah dan kitab Bulugh Al-Marrom.
* Puisi gubahan Sitor Situmorang